Jumat, 19 Februari 2010

PEMBANGUNAN MANUSIA UPAYA MENCARI SINTESIS


PEMBANGUNAN MANUSIA UPAYA MENCARI SINTESIS
(Akhir Kalam dari Buku; Menggugat Ideologi Abad ke XX;
Kritik Atas Pembangunan Manusia, oleh: Ricardo Iwan Yatim,
Penerbit Yayasan Bentang Budaya, 1997)

Catatan; Di dalam Naskah Asli, Buku Menggugat Ideologi Abad ke XX, sebenarnya RIY meracik pemikiran 5 tokoh Filsafat - Lucas, Gramsci, Marcuse, Althusser, dan Habernas, akan tetapi saya hanya menyadur satu bagian dari tulisan tersebut yang sangat relevan dengan perkembangan pemikiran Ideologi ‘Pembangunan’ di Indonesia. Sahabat, Alm RIY, adalah wartawan Majalah Matra, menyelesaikan Sarjana Filsafat (S-1) di UGM, dan telah merampungkan Tesis Magister (S2) pada Program Studi Filsafat Pasca Sarjana UI. (A.M.A)

Kritik ‘ideologi’ pembangunan cukup lama mendapat sorotan sejak era 1970-an. Cukup banyak bermunculan kritik terhadap model–model teori ideologi pembangunan dari para pemikir sosial dan cendekiawan termasyhur tiga dasawarsa terakhir pada abad ke-20. Sebagaimana dikemukakan Sindhunuta, “sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kini banyak dilontarkan kritik terhadap teori-teori pembangunan yang pernah atau sedang diterapkan di negara-negara berkembang. Munculnya pemikir-pemikir baru seperti Gunnar Myrdal, P.L Berger, P. Freire, E.F Schumacher, pemikir-pemikir yang masih meraba-raba dalam mencari teori Pembangunan yang tepat ……” 1]

Berikut ini saya ingin menyoroti pendapat dan kritik ideologi pembangunan yang dilontarkan Peter L. Berger dan E.F Schumacher, lewat karya penting mereka masing-masing 2]. Ambillah sepuluh tesis pertama 3] dari 25 tesis, yang dikemukakan Berger tentang kubu-kubu ideologi : Kapitalisme dan Sosialisme, masing-masing dengan mitos-mitos pertumbuhan dan revolusi penuh kepalsuan. Kedua buku ini dipaparkan sekadar sebagai peringatan bahwa ideologi pembangunan yang diperlukan adalah sejauh mana ia dapat menghapusklan penderitaan. Berger secara jujur mengakui bahwa ia tidak mempunyai jawaban “siap pakai”, tetapi “semua pembangunan material pada akhirnya akan sia-sia kalau pembangunan itu tidak membantu mengembangkan makna-makna yang merupakan dasar hidup manusia .”4]

Berger prihatin terhadap model-model teori pembangunan yang disodorkan kepada dunia ketiga atau negara-negara (sedang) berkembang. Macam-macam teori sudah mencoba menjelaskan fakta-fakta tentang Negara kaya dan miskin. Dalam hal ini bisa digolongkan dua paradigm atau model teori, yaitu teori modernisasi dan teori imperialism, masing-masing dengan “konsep kunci” yang mewakili kubu kapitalis dan kubu sosialis. Teori modernisasi menyebut ciri “Ideologi pembangunan” menuju suatu masyarakat yang disebut “masyarakat industri maju,” sedangkan teori imperialism mengelompokan ciri itu pada suatu “masyarakat dalam tahap kapitalisme monopoli.” Di satu pihak “konsep kunci” teori modernisasi adalah pembangunan (development), pertumbuhan ekonomi (economic growth), diferensiasi kelembagaan (institutional differentiation), dan pembangunan bangsa (nation building) ; dan dipihak lain teori imperialism memakai istilah-istilah seperti ketergantungan (dependency), pengisapan (exploitation), neokolonialisme (neocolonialism), dan pembebasan (liberation). 5]

Sejalan dengan itu patut kita simak pendapat Schumacher mengenai kondisi masyarakat pada dasawarsa pasca perang dunia II. Menurut Schumacher, di dalam dunia modern, manusia kini telah tergelincir dari satu krisis ke krisis lain. Padahal semua itu telah diramalkan sebelumnya, dan sekarang sebetulnya gejala-gejala kehancuran telah tampak di sana sini. 6] Kesalahan terbesar pada zaman kita ini adalah keyakinan bahwa “masalah produksi” sudah bisa dipecahkan bersama. Pemimpin industri, pengatur ekonomi, ahli ekonomi - - baik yang akademis maupun yang setengah akademis - - dan juga para wartawan ekonomi, semua mempunyai keyakinan itu. Memang terjadi juga silang pendapat diantara mereka, tetapi semua ahli sepakat bahwa masalah produksi sudah beres. Maka, sekarang tugas yang menjadi tanggung jawab kita, “bagi Negara yang kaya… tugas terpenting sekarang adalah ‘pendidikan bersenggang’ (education of leisure), sedangkan untuk Negara miskin adalah ‘peralihan teknologi’ 7].

Science, menurut Schumacher, tidak bisa melahirkan ide yang dapat dipakai untuk hidup. Ia tidak lebih dari suatu hipotesis yang bermanfaat untuk tujuan penelitian dan sama sekali tidak bisa diterapkan untuk menafsirkan dunia dan menyelenggarakan hidup. Maka, kalau ada orang yang ingin mencari pendidikan karena merasa bingung, merasa hidupnya tidak berarti, yang dicari tidak mungkin diperoleh lewat ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu ini menjelaskan berbagai hal tentang jalannya segala sesuatu di dalam alam dan teknik, tetapi tidak bisa menerangkan arti hidup dan melenyapkan rasa putus asa. Banyak ide pada abad ke-19 masih saja mewarnai kerangka berpikir manusia Barat yang menjadi suatu keniscayaan bagi “pembangunan manusia seutuhnya” di muka bumi 8] Ide-ide ini hendak membuang metafisika jauh-jauh. Sebab, ia tidak teruji, tidak terukur, tidak punya standar, atau tidak bisa diverifikasi. Hukum-hukum positif dan pragmatis seakan-akan patut menjadi gagasan-gagasan mulia yang hendak terus dilestarikan; di mana peranan ilmu-ilmu alam dan teknologi sudah mengambil porsi yang terbanyak dalam gagasan-gagasan itu.

Kritik atas optimism “peralihan teknologi” serta dua model teori sosiologi pembangunan yang dikemukakan kedua pemikir di atas memang tidak berlebihan. Keprihatinan mereka ini justru memberikan peringatan kepada kita; benarkah teori-teori pembangunan Negara maju (Barat) pantas dijadikan model pada pembangunan di Negara-negara dunia ketiga atau sedang berkembang - - termasuk Indonesia? Lebih-lebih kenyataan menunjukkan bahwa pola pikir masyarakat di dunia ketiga masih bersumber pada pola hidup (dan pola kerja) tradisional. Apakah model-model teori ini bisa dianggap sebagai satu-satunya saka guru bagi pembangunan, sementara dibalik kenyataan semua itu yang terjadi malah semakin bergantungnya Negara-negara sedang membangun pada Negara-negara maju? Apakah ideologi pembangunan semata-mata harus berbau ekonomis? Apakah ia harus teknologis? Dan lebih dari itu, apakah ia sekedar melulu proses produksi yang dilancarkan oleh teknologi demi terciptanya kemakmuran ekonomis? Padahal, soalnya adalah apakah dengan tercapainya kemakmuran itu pembangunan sudah dapat mengantar kita kepada pembebasan sejati bagi kemanusiaan kita itu.

Pola teknik, sebagaimana dikemukakan To Thi Ahn, telah membawa masyarakat modern pada pelbagai kemudahan hidup. Pola ini telah mengungkapkan kebebasan manusia pada penguasaan manusia atas dunia materi. Dan akhirnya pola ini dinilai pula sebagai suatu janji yang amat menggiurkan - - selalu menyuarakan janji-janji untuk meperoleh kemakmuran, kesejahteraan , dan kebebasan. 9] Menurut pemikir dari Vietnam ini, petualangan teknik adalah suatu ‘kecepatan’ dan “loncatan besar yang begitu cepat terjadi sehingga teknologi seolah hanya memuaskan dirinya sendiri.“ 10] Menggunakan istilah Alvin Toffler “kejutan masa depan” (future shock), Ahn mengemukakan bahwa hasil teknologi merupakan suatu penemuan yang satu menghasilkan penemuan lainnya sebelum orang memiliki cukup waktu untuk menyadari penemuan pertama. Sehingga, dengan perubahan teknologi yang menggila, manusia modern saat ini kehilangan arah, kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, kehilangan keyakinan terhadap nilai-nilai dan iman, mengalami kemerosotan kepribadian, cemas, tertekan, acuh tak acuh terhadap hidup, dan penuh dengan kekerasan. Teknologi merupakan suatu momok baru yang berbeda dengan komunisme dan fasisme. Mengutip Erich Fromm, the revolution of hope, Ahn menulis, “Masyarakat yang semata-mata dikuasai mesin diarahkan untuk mendapatkan hasil sebanyak mungkin dan lalu menggunakannya, diatur oleh komputer, dan dalam proses ini manusia sendiri hanya menjadi satu bagian dari seluruh mesin itu . . .”11]

Kemudian Ahn melancarkan protes; “Maka, protes utama terhadap teknologi adalah bahwa ia mematikan alam, masyarakat, dan pribadi manusia. Alam diperkosa . . . Masyarakat dirusakkan oleh persaingan yang kejam, perpecahan dalam keluarga,tradisi, dan iman. Manusia sendiri diasingkan dari lingkungannya, masyarakatnya, dan juga dari dirinya sendiri. Ia berada dalam bahaya akan menjadi roda penggerak belaka dalam system produksi-konsumsi . . .”12]

Dengan “persona manusia” dan “petualangan teknik” (istilah yang digunakan Ahn), sebagaimana yang menjadi rumusan tradisi pemikiran filsafat Barat, kita sampai pada pertanyaan tentang ideologi pembangunan. Suatu pertanyaan sederhana yang mendasar: “Apakah pembangunan itu?” 13] Tentu saja, dalam memberikan jawaban, kita harus masuk ke dalam wacana filsafat untuk mengadakan suatu refleksi atas pembangunan - - lebih-lebih bila derap langkah pembangunan kita sudah berada dalam arus pengalihan teknologi dan pola-pola gaya hidup konsumtif. 14] Fenomena ini ternyata menggelitik kita untuk mempertanyakan makna apa yang sesungguhnya akan diperoleh dari “arah pembangunan“ kita. Apakah ia merupakan sejumlah bangunan fisik disertai kemudahan akibat system teknis-operasional, 15] yaitu dengan mekanisasi, standardisasi, otomisasi, yang pada gilirannya menjadi suatu represi atau penindasan yang pada hakikatnya membuat manusia teralienasi oleh dirinya sendiri (seperti dikemukakan Macuse)?

Ideologi pembangunan manusia yang disuarakan pada zaman Renaisans dan Aufklarung pada abad ke -15 dan ke-18 ke arah kemajuan, emansipasi, liberasi, dan otonomi diri memang bukanlah suatu gagasan baru. Bagi kita sekarang ini, gagasannya kurang lebih bagaimana cita-cita itu bisa menerjemahkan kebutuhan pokok dasar manusia, misalnya rasa aman, rasa adil dan rasa kasih sayang, yang memiliki harga diri. Semuanya dilandasi dengan mengacu pada asas kebersamaan yang ikut berpartisipasi dalam karya-karya pembangunan. Model inilah yang rasa-rasanya yang hendak didambakan oleh kemanusiaan kita, khususnya pada masyarakat dunia ketiga.

Sinyalemen Marcuse atas ideologi pembangunan cukup menarik, terutama dalam menghadapi deru dan gelombang arus pembangunan dalam masyarakat industry modern. Kemajuan teknik yang meresap dalam seluruh system penguasaan menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang mampu meredakan dan membungkam suara-suara yang menentang. Bahkan, teknologi sudah menjadi alat control yang paling efektif. Masyarakat modern dalam One Dimensional Man, sebagaimana disimpulkan J. Sudarminta, adalah masyarakat yang duduk dalam sebuah bus besar yang luks. “ . . .dengan peralatan teknis yang serba lengkap dan luks, berjalan lancar dan enak, para penumpangnya pun merasa puas. Tetapi orang tidak menyadari lagi ke manakah bus itu mangarah. Orang sudah terbius dengan kenikmatan untuk tinggal di dalamnya. Bahkan pengemudinya pun terbawa saja oleh mekanisme gerak motor “. . . terus maju seturut jalan satu-satunya yang membawa bus tersebut tanpa sadar bahwa jalan tersebut menuju ke jurang kebinasaan.” 16]

Marcuse mengemukakan bahwa jurang kebinasaan ini bermula dari arah perkembangan ilmu pengetahuan. Prinsip ilmu pengetahuan modern yang berpindah dari teori operasionalisme ke praktek operasionalisme turut memberikan sikap pada manusia dan masyarakat industry modern. 17] Masyarakat telah diberi sikap mental “scientism” dan sekaligus sikap mental “kemanfaatan” sebagai realisasi dari dua aliran filsafat Barat; positivism dan pragmatism. Maka, menarik ditinjau kembali makna filsafat pembangunan yang sekadar dicapai melalui segi ekonomis dan teknologis. Barangkali cita-cita ini justru dilihat bukan untuk mencapai kebahagiaan atau menciptakan manusia se-utuhnya. Tekanan pertama yang diberikan ialah bagaimana filsafat pembangunan bertolak untuk menghapuskan penderitaan. Soalnya sekarang adalah bagaimana merumuskan model atau teori pembangunan itu sehingga memiliki relevansi terhadap Negara-negara berkembang. Dapatkah pola hidup dan kerja tradisional mengikuti pola industrialisasi?

“kemajuan pribumi yang demikian menuntut suatu kebijaksanaan terencana, yang bukan memaksakan teknologi pada pola hidup dan kerja tradisional, tetapi memperluas dan memperbarui dasar-dasarnya, menghilangkan tekanan-tekanan dan hal-hal lain yang menyebabkan mereka tidak mampu mengembangkan eksistensinya secara wajar. Perombakan sosial, pembaruan kepemilikan tanah, dan penekanan laju pertumbuhan penduduk harus menjadim prioritas lebih dulu, dan bukan industrialisasi menurut pola masyarakat maju. Keadaan akan menjadi baik bila ‘para penghasil’ itu memiliki kesempatan mencipta, bekerja keras dengan ikhlas, mau maju, dan menentukan sendiri bagaimana dan mau kemana . . . . kemajuan yang baru ini mengandaikan perubahan dalam kebijaksanaan dua kekuatan (kapitalisme dan sosialisme - - RIY) yang kini menguasai dunia - - untuk mengikis habis neokolonialisme dalam segala bentuknya.”18]

Menurut Barrington Moore adalah suatu pemikiran yang “absurd” bila kita hendak mencari satu tesis mengenai masyarakat yang sempurna - - dimana tidak ada peperangan, kemiskinan, dan ketidak adilan yang mencolok mata.19] Namun, kemustahilan yang utopis itu niscaya menuntut terciptanya bentuk-bentuk masyarakat ideal. Marcuse membuahkan inspirasi bagi Ahn dalam rangka mencoba ‘menyintesiskan’ pandangan Timur dengan Barat - - mencari bentuk masyarakat yang ideal bagi negara-negara Timur. Kreativitas harus menjadi kata kunci bagi Negara-negara berkembang . . . jika Timur menerapkan rasa harmoninya ke dalam proses industrialisasi, maka akan ada banyak kesempatan mengamankan keseimbangan dan menghindarkan banyak bencana yang mungkin timbul.”20]

Tanpa mengecilkan arti pemikiran Marcuse yang “radikal” itu, bahkan dianggap “gila” oleh para mahasiswa yang tadinya memberikan dukungan kepadanya, suara yang didengungkan itu setidak-tidaknya merupakan refleksi terhadap filsafat pembangunan kita. Ia memaparkan sejumlah nilai dan norma bagi kemanusiaan kita di tengah-tengah dunia yang serba kompleks. Akhirnya, tanpa mau memberikan penilaian kritis atas pemikiran itu, rasanya ada suatu ungkapan Marcuse yang menunjukkan betapa ia pesimistis, meski cukup menarik kita renungkan; “Bagi manusia rasional, hak untuk menjadi takut adalah sesuatu yang paling penting yang diwarisi hari ini. 21] Tantangan bagi kita kini ialah bagaimana mengatasi “ketakutan” tersebut.



Keterangan;

1] Sindhunuta, 1983, Dilema Usaha Manusia Rasional, hlm 146.
2] Pada tahun 1974 Berger meluncurkan buku Pyramids of Sacrifice, sedangkan Schumacher
menghasilkan karya Small is Beautiful, yang terbit perdana pada tahun 1973.

3] Sepuluh tesis pertama tersebut sebagai berikut; 1) Dunia dewasa ini terbagi dalam kubu-kubu ideologi. Dengan penuh kepastian, para penganut masing-masing memberitahukan kepada kita dimana kita berada dan apa yang harus kita lakukan. Sebaiknya kita tidak mempercayai satu pun dari kubu-kubu itu. 2) Model-model ideologis yang utama mengenai perubahan social (termasuk pembangunan dunia ketiga) didasari oleh dua mitos yang dominan, yaitu mitos pertumbuhan dan mitos revolusi. Kedua mitos tersebut harus dibongkar kepalsuan-kepalsuannya. 3) Pembongkaran itu sendiri bukanlah tujuan, tetapi merintis kemungkinan-kemungkinan baru bagi pemahaman dan pembuatan kebijaksanaan politik. Hal ini terutama penting untuk penilaian atas model-model kapitalis dan sosialis mengenai perubahan social. 4) Ideologi kapitalis, yang didasarkan pada mitos pertumbuhan harus dibongkar kepalsuan-kepalsuannya. 5) Pertumbuhan kapitalis membebankan biaya-biaya manusiawi yang tinggi. Di banyak negarqa dunia ketiga biaya-biaya ini terlalu mahal. 6) Perolehan kapitalisme yang penting adalah produktivitas yang tiada tandingannya dan lembaga-lembaga yang menunjang kebebasan pribadi. Kasus demi kasus, semua perolehan itu harus ditimbang terhadap biaya-biaya. 7) Di Banyak Negara dunia ketiga penilaian itu kiranya menyebabkan dipilihnya kebijaksanaan politik yang bukan kapitalis. Kebijaksanaan itu tidak masuk akal di Barat. 8) Ideologi sosialis yang didasarkan pada mitos revolusi harus dibongkar kepalsuan-kepalsuannya. 9) Revolusi-revolusi social telah membebankan biaya-biaya manusiawi yang tinggi. Suatu penilaian atas perolehan sosialisme (seperti pembagian yang lebih adil atas barang-barang kehidupan) harus menimbang biaya-biaya ini, kasus demi kasus. 10) Para pengkritik kapitalisme benar kalau mereka menolak kebijaksanaan-kebijaksanaan politik yang menyetujui kelaparan pada waktu sekarang, sementara menjanjikan kemakmuran di hari esok (dan mereka benar kalau mempertanyakan janji itu). Para pengkritik sosialisme benar kalau mereka menolak kebijaksanaan –kebijaksanaan politik yang menyetujui teror pada waktu sekarang demi janji suatu tatanan yang manusiawi di hari esok (dan begitu pula kalau mereka mempertanyakan apakah hari esok seperti itu dapat dipercaya). Berger, 1982, Piramida Kurban Manusia, hlm.xxx.

4] Ibid, hlm 222.
5] Ibid, hlm 11.

6] Schumacher mengemukakan bahwa dunia modern terbentuk oleh metafisikanya, yang kemudian membentuk pola pendidikan, dan akhirnya menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, tanpa kembali ke metafisika dan pendidikan, dunia modern bisa disebut terbentuk oleh teknologi. Schumacher, 1979, Kecil itu Indah,hlm 139.

7] Ibid, hlm.13.

8] Schumacher mengemukakan enam ide pokok dari abad ke-19 yang masih tetap menghantui pikiran kaum terpelajar dan ilmuan dewasa ini: 1) Ide evolusi, yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk yang tinggi berkembang dari bentuk-bentuk yang rendah, sebagai suatu proses alami dan otomatis. Selama lebih dari seratus tahun terakhir kita menyaksikan bahwa ide ini secara sistematis diterapkan pada segala segi kehidupan. 2) Ide persaingan (Darwin), the survival of the fittest, yang merupakan seleksi alami yang mau menerangkan proses evolusi dan perkembangan yang wajar dan otomatis itu 3) Ide Marx adanya bentuk-bentuk yang tinggi dalam kehidupan manusia - - - antara lain agama, filsafat dan seni - - hanya sekadar “tambahan yang diperlukan proses kehidupan material,” sekadar menutup –nutupi dan memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi, karena seluruh sejarah umat manusia tidak lain adalah sejarah perjuangan kelas, sebagaimana Marx menyebut “Panthasmogaria”. 4) Ide Freud, yang menganggap semua bentuk getaran gelap dari bawah sadar sebagai akibat dari keinginan di masa kanak-kanak dan awal masa remaja yang tidak terpenuhi. 5) Ide relativisme, yang menolak segala yang mutlak, melarutkan segala norma dan ukuran, dan menenggelamkan ide kebenaran dalam pragmatism. Pengaruhnya terasa pula pada bidang matematika, yang oleh Bertrand Russel diberi batasan sebagai “bidang yang tak akan pernah kita ketahui apa sesungguhnya, atau apakah yang kita katakana benar.” 6) Ide Positivisme, yang sejak Aguste Comte (Bapak Sosiologi) terus mengalami “kejayaan.” Pengetahuan yang benar hanya bisa diperoleh lewat metode ilmu-ilmu alam, maka pengetahuan sejati harus berdasarkan pada fakta-fakta yang dapat diamati. Positivisme semata-mata tertarik pada know-how dan menolak kemungkinan adanya pengetahuan yang objektif mengenai arti dan tujuan. Ibid. hlm. 84.

9] Ahn, 1984, Nilai Budaya Timur dan Barat, hlm.62.
10] Ibid, hlm. 56.
11] Fromm, 1968, the revolution of hope, hlm 1. Sebagaimana dikutip Ahn, ibid, hlm 58.
12] Ibid
13] Wibisono, 1985, Ilmu Filsafat dan aktualitasnya dalam Pembangunan Nasional, hlm 16.
14] Heraty, 1984, Aku dalam Budaya, hlm 19.
15] Bdk Peursen, 1976, Strategi Kebudayaan , hlm 109-117; Wibisono, op.cit, hlm 16.
16] Sudarminta,1982, “Kritik Marcuse terhadap Masyarakat Industri Modern,” dalam Sastrapratedja (ed.), Manusia Multi Dimensional, hlm 156.
17] Marcuse, 1972, One Dimensional Man, hlm. 158.
18] Ibid, hlm 47-48.
19] Moore, 1968, “the society nobody wants : A look Beyond Marxism and Liberalism,” dalam Wolff &Moore (ed), the critical spirit, hlm. 401.
20] Ahn, op.cit. hlm, 96-97.
21] Wolff &Moore, op.cit.,hlm viii.

Jumat, 12 Februari 2010

Noktah Hitam Liberalisme


Dalam buku The Return of Depression Economic (1999), Paul Krugman, pemenang hadiah Nobel Ekonomi 2008, meramalkan, suatu saat akan terjadi krisis akibat liberalisasi yang tidak terbatas. Dia berkata: the world economy has run out to be a much more dangerous place than we imaged.

Ramalan Krugman tampaknya terbukti. Banyak pengamat ekonomi memandang bahwa krisis ekonomi global , dewasa ini, menunjukkan betapa rapuhnya bangunan kapitalisme – liberalisme.

Menurut Kholid Syerazi (2008), krisis tersebut terjadi akibat kombinasi dari moral hazard dikalangan industry keuangan wall street serta sikap menutup mata otoritas pasar financial, moneter, dan pemerintah yang selama ini ‘diam-diam’ bermain api dengan para pialang saham.

Fenomena krisis global, dewasa ini, membuka kembali ingatan kita pada tragedy great depression pada 1930-an. Menurut John A Garraty (1987), masa tersebut merupakan tahun-tahun penting dalam sejarah, di mana Inggris dan Perancis, sebagai industry terbesar merasa terancam dengan adanya kekuatan industry baru, yaitu Jerman. Krisis great depression terjadi karena adanya perubahan standarisasi uang dan emas menjadi hanya uang kertas tanpa jaminan.

Ketika itu, teori liberalism klasik gagal menjelaskan mengapa semua teorinya tidak berjalan. Teori full employment tidak berjalan dan runtuh. Salah satu penyebabnya, para ekonom klasik menganggap fungsi uang hanya sebagai jendela transaksi. Pasca depresi hebat tersebut, system liberalism mendapat sorotan tajam. Selanjutnya, wacana Negara industry maju mulai ‘dikuasai’ wacana politik social democrat.

Argumen yang digemborkan adalah kesejahteraan setelah kapitalisme klasik dianggap tidak bisa bertahan, karena ternyata butuh peran dari Negara.

Bersamaan dengan itu, muncul teori john Maynard Keynes (resep Keynesian) yang menganggap bahwa peran Negara masih dianggap penting.

Kaum elite politik dan pengusaha memegang teguh pemahaman bahwa salah satu bagian penting dari tugas pemerintah adalah menjamin kesejahteraan warga negara. Rakyat berhak mendapat tempat tinggal layak, mendapat pendidikan, mendapat pengobatan, dan berhak mendapatkan fasilitas-fasilitas social lainnya.

Selanjutnya, Negara-negara yang terpengaruh gagasan Keynes membentuk welfare state di Eropah. Pada tahun 1970-an seiring dengan membubungnya inflasi, merosotnya pertumbuhan ekonomi, membengkaknya pengangguran, deficit sector public dan krisis minyak, keynesianisme diserang sebagai biang keladi terjadinya krisis ekonomi.

Freidrich Von Hayek dan Milton Freidman adalah orang yang kembali menghidupkan ajaran-ajaran Adam Smith (1723 – 1790). Para pemikir Neolib tersebut menyatakan bahwa masyarakat pasar kapitalis adalah masyarakat yang bebas dan merupakan masyarakat produktif. Kapitalisme bekerja menghasilkan kedinamisan, kesempatan dan kompetisi. Kepentingan dan keuntungan pribadi adalah motor yang mendorong masyarakat bergerak dinamis.

Dalam buku Republik yang menunggu (2008), dijelaskan, debut neo liberalism melejit karena ditopang oleh rezim Reagan di AS dan Tatcher di Inggris. Salah satu revolusi yang dilancarkan kedua kampiun neolin tersebut adalah liberalisasi pasar uang yang digalakkan sejak 1970-an.

Mereka ditopang oleh lembaga-lembaga internasional seperti IMF, World Bank, WTO, serta perusahaan-perusahaan multi nasional (MNC’s). Sampai sekarang, pola neoliberal kemudian diikuti oleh banyak Negara.


Mengubah Paradigma

Sejarah bukan hanya catatan tanpa makna. Sejarah merupakan guru yang bijak, agar kita tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Apabila demikian, pelajaran apa yang dapat ditimba dari jatuh bangunnya system liberalism?

Indonesia harus berani melakukan perubahan paradigm tatakelola ekonomi. Sebab, selama ini, system liberal-kapitalis yang dianut terbukti tidak mampu menuntun kita pada cita-cita nasional.

Kapitalisme, menurut Omerod dalam buku the death of economics (1994), justeru telah melakukan “perampokan” terhadap kekayaan Negara-negara berkembang melalui system moneter fiat money.


Globalisasi

Gagasan perubahan paradigm tata kelola ekonomi tersebut sesungguhnya telah diusulkan oleh beberapa ilmuan. Misalnya, Joseph E Stigliz, pemegang hadiah Nobel Ekonomi pada 2001. Dalam bukunya Gobalizatian and descontents, ia menyatakan, Globalisasi sebagai anak kandung kapitalisme, ternyata tidak banyak membantu negara miskin. Akibat Globalisasi ternyata pendapatan masyarakat tidak meningkat di berbagai belahan dunia.

Hal senada ditulis oleh Amitai Etzioni dalam buku The Moral Dimension : Toward a New Economics (1988). Menurutnya, dunia saat ini, membutuhkan paradigm shift (pergeseran paradigm) demi menyelamatkan umat manusia dari bahaya kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan serta pengangguran.

Tegasnya, jatuh – bangun liberalism mengajarkan agar kita menjadi bangsa yang percaya diri dan mandiri. Kita harus percaya diri karena mempunyai modal sumber daya manusia yang handal dan modal kekayaan alam yang melimpah–ruah. Kemudian, kita harus mandiri agar tidak didikte lagi oleh kepentingan asing.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, tidak ada pilihan lain, kecuali kita harus mendesain ekonomi nasional yang mengikuti kaidah-kaidah pro rakyat yang menitik beratkan pemerataan dan keadilan daripada pertumbuhan.

Dengan kata lain, saatnya kita kembali kepada ajaran Bung Karno, yaitu Trisakti (mandiri dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya). Mari kita tunggu hadirnya pemimpin-pemimpin yang berani dengan membawa visi–misi paradigm ekonomi kerakyatan.



Catatan; Dicopy paste dari tulisan Bambang W. Soeharto, Suara Pembaruan on line, tgl 17/11/2008; penulis adalah Doktor Ilmu Politik UGM , Pimpinan Harian Dewan Koperasi Indonesia, Ketua Dewan Penasihat Partai Hanura, dan Kosgoro.

Minggu, 10 Januari 2010

SURAT TERBUKA KEPADA SI “POLTAK”YANG (BUKAN ANAK MEDAN)


SALAM SOLIDARITAS,
Rasanya Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu sejak kita aktif di DPP KNPI di Kuningan. Sembilan belas tahun lalu. Saya masih ingat ketika Rapat rapat di DPP, sosok Ruhut Sitompul kalau berbicara di forum Pleno tampil dengan performa yang santun, penuh dengan bunga bunga kata terpilih, dan spontan. Sebagai sosok yang penuh canda sangat disenangi oleh teman2 lainnya apalagi sangat kompak dengan ketua umum kita saat itu Bung Didiet Haryadi dan Tjahyo Kumolo. Forum KNPI adalah tempat persemaian tokoh2 Pemuda dari 48 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda tingkat Pusat. Latar belakang Budaya yang berbeda-beda, agama dan Ras telah mempertemukan dan mempersatukan cara berpikir kita sebagai sosok Indonesia yang penuh kebhinekaan. Stigma negative atas stereotype suku hilang karena kebersamaan dan pemahaman Inclusive Budaya yang berbeda. Itu akibat dialog yang intensif di kampus “kebangsaan kita”, dan kehadiran sosok Bung Ruhut memperkaya khasanah perbedaan itu.

Tiada hari yang tidak ceria bagi Bung Ruhut, ramah dan hormat kepada senior dan selalu menyenangkan teman-teman. Yang mengagetkan saya adalah ketika ketika kita menghadiri Musyawarah Daerah DPD KNPI Sumatera Utara di Padang Sidempuan bersama Bung Rambe Kamarul Zaman, Chatarinus Simanjuntak, terjadi kesalah pahaman antara kita karena bung menengarai adanya konspirasi antara Bung Rambe dengan Kadit Sospol Tapsel, padahal Tim telah diberi mandate khusus oleh Ketum untuk mengamankan calon Ketua DPD KNPI Sumut.

Sebenarnya yang dibicarakanoleh Bung Rambe kala itu tidak ada hubungannya dengan apa yang Bung khawatirkan yaitu skenario mengganggu calon dari DPP yaitu Bung Manahan. Disinilah saya tahu bahwa bung Ruhut adalah seorang yang berwatak tempramental cepat sekali emosional. Akan Tetapi kesalah pahaman itu kita selesaikan dengan semangat kekeluargaan di Mess kita menginap. Yang menjadi pertanyaan saya kala itu mengapa bung Ruhut sangat temperamental dan emosional justru bukan kepada bung Rambe tapi nyasar kepada saya? Apakah ini tidak salah sasaran? Dan adapun mandate dari Ketum seyogianya di komunikasikan kepada saya dan Rambe, sehingga kebersamaan Tim terjaga tanpa rasa curiga?

Sifat temperamental, itulah yang saya lihat ketika menonton TV one, yang menayangkan “percekcokan” Bung Ruhut dengan Prof. Gayus; Ketika Prof. Gayus menyentak dengan kalimat “kurang Ajar”, Bung Ruhut serta merta membalas dengan sebutan “Bangsat” !

Seingat saya kalimat kalimat itu dulu tidak pernah muncul di Kampus Kebangsaan di Kuningan, dan (maaf) menanggapi komentar Bung Andi Malarangeng, seolah kebiasaan anak Medan terbiasa dengan kalimat kasar tersebut, itu salah, Mainlah ke Medan, temui Anak Medan pasti mereka bicara santun malah “gaya umbang” gaya Medan telah memperkaya khasanah perpolitikan di kalangan pemuda; memuji dan memberikan apresiasi didepan dan pada ujung kata menimpali dengan kritik, yang tidak menyinggung perasaan karena dibalut dengan perumpamaan ala gurindam dua belas, Melayu. Konotasi si Poltak Raja Minyak berlogat Batak,di dalam Film, sangat kontras dengan system bertutur anak Medan,yang keMelayuan, dan slogan Ini Medan Bung!, adalah kekhususan dan kebanggaan anak Medan (yang dilahirkan dan atau pernah berdomisili di kota Medan); biarpun dikenal sebagai kota preman (baca; free Man yang mumpuni); tetapi santun dan familiar tidak pernah mengeluarkan kata kata kasar yang tidak etis.

Dengan berbalas kata kasar di TV dan ditonton jutaan pemirsa serta merta kita jadi bertanya mengapa si “Poltak” cepat sekali berubah setelah menjadi bintang sinetron dengan memaki tanpa kontrol? Bukankah selama di KNPI, telah banyak pembekalan yang kita terima, dari sejak Penataran P4 sampai kepada Tarpadnas Pemuda oleh Lemhannas? Mengapa terlalu longgar pengendalian diri Bung Ruhut justeru setelah duduk di panggung politik sebagai anggota Legeslatif yang terhormat? Bukankah semakin matang usia seseorang ibarat Ilmu padi, semakin bernas semakin merunduk? Inilah beberapa catatan sebagai sesama teman aktivis, dengan harapan semoga dalam kurun waktu tertentu bisa merubah tata cara bertutur yang sopan tidak mudah terpancing walau oleh seorang Profesor atau Pimpinan sidang yang memulai dengan kalimat “kurang ajar”! sekalipun. Dimana semangat Intelektualisme dan Etika berkomunikasi yang seharusnya sudah melekat disumsum tulang seorang alumni Universitas, apalagi bagi seorang Kader Bangsa?

Kalau Bung Ruhut tidak bisa merestorasi diri kearah perubahan yang lebih baik, kami sarankan Kembalilah Bung Ruhut menjadi si “Poltak” yang ( bukan anak Medan); yang hanya ada di Sinetron yang bisa memerankan peran ganda atau seribu Wajah ,daripada menjadi “Aktor” politik yang tidak santun, penuh intrik dan “kasar”. Negeri ini sangat membutuhkan Kepemimpinan yang Transformasional ; yang mempunyai Kharisma, yang mampu memberikan stimulasi Intelektual, mampu menciptakan jargon, dan memperjuangkan kepentingan umum.

Maafkan saya apabila dianggap terlalu berlebihan, Surat ini saya tulis secara spontan ditengah semakin maraknya protes terhadap si “Poltak”, yang ( bukan anak Medan), karena gerakan hati yang merasa pernah satu wadah bersama bung Ruhut, dikancah kawah Candra dimuka KNPI sebagai miniature Indonesia, tempat penggodokan Kader Bangsa berbasis Nasionalisme, terbuka dan berjiwa Pancasila.
Dari Seorang sahabat , Abdul Muin Angkat, di Jakarta.

Selasa, 24 November 2009

PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN


Oleh: Abdul Muin Angkat

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Krisis multi dimensi yang dimulai 10 tahun yang lalu tidak terlepas dari ‘Nation and Character Building’ yang terlupakan semenjak 32 tahun pemerintahan Orde Baru, dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pemimpin yang tidak dibekali landasan karakter ternyata berdampak negative terhadap pembangunan nasionalisme yang berbasis kesejahteraan rakyat. Terjadinya degradasi moral dikalangan elite politik menjadikan Indonesia terpuruk disemua bidang kehidupan, harapan agar rakyat terlepas dari dera kemiskinan semakin jauh. Secara tegas Mendiknas Prof. Dr. Bambang Sudibyo pada Dialog Nasional Mahasiswa tahun 2006, di Jakarta mengatakan “ternyata pendidikan yang di arahkan kepada domain kognitif saja gagal meningkatkan martabat manusia”. Oleh sebab itu diperlukan strategi baru agar pendidikan secara holistic dapat diadopsi oleh kurikulum di sekolah dan perguruan tinggi, sehingga ada keserasian antara peningkatan IQ, EQ dan SQ.

Pasca reformasi ternyata praktek praktek Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) merajalela disemua lapisan masyarakat, tidak terkecuali di Badan Legislatif, eksekutif maupun judikatif. Istilah ‘korupsi berjamaah’ yang dikenal pertama kali ketika puluhan orang anggota DPRD Tk I Sumatera Barat secara beramai ramai di tuntut di muka Pengadilan karena menggunakan anggaran APBD secara tidak proporsional, diselewengkan untuk kepentingan diri sendiri. Sejak itu kasus demi kasus di seluruh tanah air tidak terlepas dari berita keterlibatan para Bupati, Walikota bahkan sampai kepada Gubernur dan Menteri Kabinet yang dihadapkan kepada sidang Pengadilan Negeri, karena tuntutan korupsi - - dan mereka terpaksa mendekam di bui, dipaksa masuk penjara- - - untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kasus anyar korupsi kembali terjadi ketika seorang anggota komisi III DPR-RI digelandang ke Bui oleh Pemda Banten pada bulan Nopember 2009.

Di dalam Buku Kepemimpinan dan Manajemen, Miftah Toha menguraikan contoh bahwa seorang pemimpin adalah seorang ‘penggembala’, dan setiap penggembala akan ditanyakan tentang perilaku penggembalaannya. Seorang pemimpin lebih banyak bekerja daripada berbicara, lebih banyak memberikan contoh-contoh baik dalam kehidupannya daripada berbicara besar tanpa bukti ; dan lebih banyak ber-orientasi kepada bawahan dan kepentingan umum daripada berorientasi kepada kepentingan diri sendiri. Sejarah mencatat bahwa Iskandar Zulkarnaen adalah seorang penggembala yang agung dan tangguh dari sejarah masa lalu Macedonia.

Iskandar yang Agung mampu menggerakkan rakyatnya untuk membangun Negara dengan falsafah kepemimpinan yang cukup sederhana tapi ampuh. Suatu ketika tentara Iskandar ini hampir berontak, tak tahan menahan dahaga di padang pasir. Ditengah-tengah kedahagaan itu didapatkan sebuah kendi besar berisi air. Ternyata kebutuhan air untuk Tentara yang berjumlah ribuan tersebut sangat besar sehingga kalau dibagikan tidak akan mencukupi. Kemudian ‘Sang pemimpin’ mengambil langkah yang controversial. Air dalam kendi tersebut dituangkan kepasir, karena tidak mungkin dibagi secara adil. Setelah itu Tentara tidak jadi berontak, justru tindakan Iskandar Zulkarnaen itu, membakar semangat tentaranya meneruskan perjuangan.

Berbicara tentang ‘pemimpin’ dan kepemimpinan sangat menarik untuk dipelajari akan tetapi sulit untuk menirunya. Berbagai pemimpin yang sukses dan ternama tetapi banyak juga yang gagal. Begitu sulitkah mencari pemimpin yang baik dan memenuhi persyaratan dan mampu membawa kejayaan kepada rakyat yang dipimpinnya atau kepada pengikut-pengikutnya?

Apa yang terjadi kepada seorang ‘pemimpin’ dan atau ‘kepemimpinan’? Siapakah Pemimpin yang baik menurut organisasi modern? Bagaimanakah kepemimpinan yang berhasil? Bagaimana kepemimpinan yang efektif? Dan lebih jauh lagi bagaimana mengukur tanggung jawab seorang pemimpin dan sekaligus menjadi Insan yang ber akhlak mulia, dan mempunyai moralitas yang tinggi? Tulisan ini akan berusaha menggali seluruh informasi dari berbagai sumber.

Kemampuan untuk memberikan contoh dan tauladan didalam satu kepemimpinan merupakan faktor penting yang harus dipunyai oleh seorang manajer. Dan apabila Organisasi dapat mengidentifikasi serta menyiapkan kualitas-kualitas personal yang berhubungan dengan kepemimpinan, dan sekaligus dapat mengidentifikasi perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan yang efektif, ini berarti merupakan sumbangan yang sangat penting untuk memperkaya khasanah dan sumberdaya insani secara komprehensif.

Identifikasi Masalah

Di dalam satu organisasi, pemimpin dibagi 3(tiga) tingkatan yang tergabung sebagai manajemen members yaitu; 1) manajer puncak (Top manager); 2)Manajer menengah (middle manager); 3) manajer bawahan ( lower manager/supervisor). Seorang ‘pemimpin’ mempunyai keterampilan menajemen (managerial skill) maupun keterampilan teknis (technical skill) Semakin tinggi kedudukan seorang manajer, atau pemimpin dalam organisasi maka semakin menonjol keterampilan manajemen, karena aktivitas yang dijalankan bersifat konsepsional. Malayu dalam Manajemen SDM menjelaskan seorang pemimpin harus menyadari, bahwa dinamika suatu organisasi yang diletakkan di pundaknya seyogianya di dalam pelaksanaan di delegasikan kepada bawahan. Munculnya suatu kreativitas pemimpin kadang kadang pada saat yang tidak diduga oleh sebab itu perlu kiat untuk mengatur suasana kerja yang dibarengi dengan penyisihan waktu yang cukup untuk menggagas ide-ide, atau konsep pengembangan organisasi yang bisa di operasionalkan.

Apa yang di maksud sebagai ‘du characteristic’ oleh Malayu adalah apabila pihak bawahan menerima wewenang dari atasan, tetapi pada saat yang sama atasan tersebut tetap memiliki wewenang dimaksud. Sama hal nya apabila desentralisasi wewenang diterapkan, maka sebagian kecil wewenang dipegang pimpinan, sedangkan sebagian besar kekuasaannya didelegasikan kepada bawahannya. Dengan kepercayaan pimpinan kepada bawahan maka sebenarnya waktu untuk merencanakan, mangarahkan dan mengawasi bawahan lebih berjalan efektif, sehingga sifat pendelegasian wewenang tersebut dapat juga diartikan sebagai ‘du characteristic’

Seorang pemimpin harus dapat menjadi panutan dan memberikan keteladanan kepada bawahan, pimpinan sangat berperan merubah disiplin dan menjadi contoh yang baik bagi karyawan; seperti bersikap jujur, adil, dan konsisten. Menurut Siagian (1994), Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang, sedangkan ‘pemimpin’ merupakan orang yang diakui dan diterima oleh orang lain atau kelompok sebagai pribadi yang mempunyai kemampuan tersebut. Ada dua pendapat yang saling bertentangan tentang kelahiran seorang pemimpin.

Pertama, mengatakan bahwa seorang pemimpin ‘dilahirkan’ karena adanya bakat-bakat kepemimpinan yang merupakan talenta seseorang secara khas. Secara praxis, eksistensi seorang pemimpin yang efektif, berbanding lurus dengan adanya bakat sejak lahir yang dipunyainya. Sedangkan pandangan kedua mengatakan bahwa pemimpin merupakan ‘hasil tempaan dan bentukan’ dari lingkungan sekitarnya. Penempaan dan penumbuhan efektifitas kepemimpinannya didapatkan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan, sehingga seseorang yang diarahkan secara intensif dapat menemukan dirinya sebagai pemimpin yang efektif.

Menurut Siagian (1994), paradigma kepemimpinan yang efektif harus di dasarkan kepada dua pandangan diatas sehingga seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila tercakup 3(tiga) hal yaitu: 1) Secara genetis telah memiliki bakat kepemimpinan; 2) Bakat tersebut dikembangkan melalui jabatan yang di emban; 3) Ditopang oleh pengetahuan teoritis di dalam pendidikan/pelatihan kepemimpinan.

Di dalam organisasi selalu ada hubungan yang bersifat formal, maupun informal. Hubungan formal melahirkan organisasi formal, sedangkan hubungan informal melahirkan organisasi informal. Kepemimpinan formal adalah adalah kepemimpinan yang resmi, yang diangkat dalam satu jabatan tertentu. Efektivitas kepemimpinan informal tergantung daripada pengakuan kepemimpinan seseorang. Beberapa kriteria diantaranya menyangkut hal sebagai berikut: a) kemampuan memikat hati orang lain; b) kemampuan berkomunikasi dan membina hubungan; c) penguasaan tentang tujuan organisasi, dan pencapaian target dari kegiatan operasional; d) kompetensi keahlian tertentu yang tidak dipunyai orang lain.

RUMUSAN MASALAH

Pemimpin adalah seseorang yang diberi kepercayaan untuk mengemban satu tanggung jawab sehingga dia merupakan panutan dan tauladan yang mempunyai moralitas yang tinggi, jujur, berani dan dapat mengayomi orang banyak. Seorang Pemimpin merespons tuntutan zaman, menggerakkan tranformasi social politik secara partisipatif. Pemimpin adalah seseorang yang memegang peranan kunci, dominasi dan pengaruh.

Kepemimpinan adalah merupakan satu kesatuan system yang diaktualisasikan guna memperbaiki serta mempengaruhi perikehidupan seseorang atau sekelompok orang di dalam masyarakat agar tercapai kualitas kehidupan yang lebih baik, sejahtera, aman dan bermartabat dan ber keadaban. Salah satu system yang sangat mempengaruhi adalah system nilai, etika, watak, moral dan visi yang melekat kepada kepribadian sang pemimpin sehingga mampu menyelesaikan tanggung jawab dan tugasnya secara etis-moral.

Manajer adalah seorang pimpinan yang mempunyai kompetensi manajemen di dalam suatu perusahaan untuk melakukan fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi motivasi sera fungsi pengawasan agar Perusahaan tersebut secara efektif berjalan baik untuk meraih keuntungan dan produktivitas yang tinggi.

Mengapa seorang pemimpin tidak menjalankan misi nya secara bertanggung jawab, jujur dan tidak melawan hati nuraninya? Mengapa watak, budi luhur, moralitas dan jati diri personal seorang pemimpin atau yang diamanatkan sebagai ‘penyelenggara negara’ tidak menjalankan amanah secara konsekwen?.


II. PEMBAHASAN

Fungsi dan Ciri Pemimpin yang efektif

Pandangan moderat dari Siagian yang memadukan ciri pemimpin yang dilahirkan karena bakat genetis dan karena tempaan pendidikan dan pelatihan, menjadikan pengembangan seorang pemimpin yang efektif lebih diarahkan kepada proses pematangan kepemimpinan sehingga mempunyai pengalaman baik di dalam jabatan maupun proses interaksi dengan masyarakat. Pengakuan terhadap seorang pemimpin sejati dimulai dari adanya penerimaan sukarela dari pihak yang dipimpin. Dibawah ini akan dikemukakan perbedaan antara pemimpin dan yang non pemimpin

Pemimpin:

1. Memberikan inspirasi kepada bawahan

2. Menyelesaikan pekerjaan dan mangarahkan pengembangan staf.

3. Memberikan contoh kepada bawahan bagaimana melakukan pekerjaan.

4. Menerima kewajiban-kewajiban

5. Memperbaiki segala kesalahan atau kekeliruan.

Non pemimpin:

1. Memberikan dorongan kepada bawahan

2. Menyelesaikan pekerjaan dan mengorbankan bawahan

3. Menanamkan perasaan takut kepada bawahan dan memberikan ancaman

4. Melimpahkan kewajiban kepada orang lain

5. Melimpahkan kesalahan pada orang lain apabila terdapat kekeliruan

Berbagai pendapat tentang pemimpin dan kepemimpinan dikemukakan oleh para ahli, namun dari berbagai macam literatur tidak ada kesepakatan tentang hal tersebut. Beberapa definisi yang dikemukakan itu dipelopori oleh Frederick Winslow Taylor pada abad ke 20 dan berkembang menjadi suatu ilmu kepemimpinan yang menyatakan; Kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada bakat dan pengalaman saja, akan tetapi sudah jauh bergeser kepada perencanaan pelatihan calon calon pemimpin, melalui penyelidikan, percobaan, analisis, supervisi serta sifat sifat unggul lainnya agar mereka berhasil dalam tugasnya.

Dalam hal ini pemimpin mengacu kepada orangnya (manusia) sedangkan kepemimpinan terutama mengacu kepada sifat, gaya, perilaku dan seni yang digunakan untuk memimpin. Fungsi utama seorang pemimpin adalah mengambil keputusan (decision making) merujuk pandangan Lawrence R, jauch and William F. Glueck, di dalam Tjutju Yuniarsih dan suwatno, Manajemen Sumber Daya Manusia ada 5 aspek penting yang menjadi indikator kunci dalam pengambilan keputusan stratejik yaitu;

a. Rasionalitas. Hal ini dapat diukur dari sisi manfaat maksimum, ketepatan pemilihan alternative, kepastian penetapan skala prioritas, dalam merealisasikan visi missi organisasi.

b. Relevansi. Hal ini dapat diukur dari tingkat kesesuaiannya dengan tujuan dan kebutuhan organisasi.

c. Kepuasan. Hal ini dapat diukur dari tingkat penerimaan stakeholders, yang merupakan dampak positif dari keputusan, dan komitmen terhadap implementasi.

d. Fleksibilitas. Hal ini dapat diukur dari kesesuaiannya dengan situasi dan tingkat kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

e. Komprehensif. Hal ini dapat diukur dari keluasan cakupan permasaalahan yang dapat diatasi.

Secara lebih rinci fungsi pemimpin dalam pengambilan keputusan terutama dikaitkan dengan kebutuhan untuk; a) menetapkan berbagai kebijakan yang dapat memotivasi lahirnya inovasi; b) menganalisis berbagai situasi yang dihadapi organisasi, untuk mendapatkan solusi bagi upaya pengembangan dan sustainability; c) mengorganisasikan partisipasi kelompok untuk terciptanya kerjasama (kolaborasi); d) menetapkan mekanisme dan standar prosedur kerja, yang dapat memberi inspirasi serta menumbuhkan kreativitas; e) melakukan pembinaan kepada staf dalam upaya menumbuhkan budaya belajar melalui organizational learning memperkuat komitmen dan menjaga loyalitas.

Dalam rangka mencapai perubahan budaya secara efektif, Nevizond Chatab dalam bukunya Profil Budaya Organisasi menawarkan sistem kepemimpinan agar dilaksanakan secara formal maupun informal.Umumnya sistem kepemimpinan bermula dengan apa yang akan dilakukan. Diawali dengan pernyataan misi dan bagaimana melakukannya, yang diawali arahnya dengan pernyataan tata nilai (values), guna mewujudkan visi yang ditetapkan. Misi dilanjutkan dengan goal jangka panjang dan dijabarkan dengan objektif jangka pendek dan kemudian dengan tindakan aksi (program kerja), yang bergerak mulai dari yang lebih luas (broad intent) ke yang specific (specific intent). Tindakan nyata ditunjukkan dengan komitmen pimpinan untuk memberikan dukungan.

Tata nilai (values) ditindak lanjuti dengan strategi, diikuti dengan kebijakan atas strategi yang dipilih. Strategi merupakan satu ‘road map’ yang akan dilalui guna menggerakkan produktivitas, inovasi, dan keunggulan kompetitif untuk mencapai sasaran jangka panjang. Pola gabungan antara seorang ‘pemimpin’, doing the right things dan manajer, doing things right, merupakan kesatuan visi apa yang harus dilakukan untuk mencapai kesuksesan masa depan. Sifat kepemimpinan yang berorientasi pelayanan, keteladanan, dan kerendahan hati merupakan penopang kesuksesan dimaksud.

Pimpinan organisasi harus mampu mengelola perubahan budaya dan tata nilai baru, sebagai komitmen yang dijalankan secara konsisten baik oleh manajer maupun administrator senior, guna memompakan semangat perubahan disertai dengan penyiapan sumber daya pendukung yang dialokasikan. Modifikasi perubahan organisasi dapat dilakukan dengan pilihan tidakan seperti; a) penataan organisasi; b) implementasi sistem dengan berbagai metode keterlibatan orang yang mempunyai kompetensi sekaligus dengan system imbalannya; c) sistem kepemimpinan yang kuat dan gaya kepemimpinan yang mendukung; d) alokasi sumber daya khususnya pemberdayaan SDM; e) sistem informasi dan pemantauan kemajuan perubahan secara ketat; f) Sistem rekruitmen dan seleksi terhadap posisi kepemimpinan kunci yang dapat memberikan contoh dinamika perubahan.

Teori Kepemimpinan dan Tipe-tipe Kepemimpinan

Rumusan tentang kepemimpinan menurut Miftah Thoha adalah, kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Dalam hal ini kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh tata aturan birokrasi. Kepemimpinan bisa terjadi di mana saja, Seorang ulama yang punya pengaruh dan pengikut, sama fungsinya dengan seorang Bupati, atau walikota yang memimpin daerahnya. Seorang ulama atau Kiayi tidak harus menjadi pegawai pemerintahan terlebih dahulu sebelum menjadi seorang ‘pemimpin’. Apabila kepemimpinan dibatasi oleh tatakrama birokrasi, atau dikaitkan dalam suatu organisasi tertentu maka dinamakan manajemen.

Di dalam manajemen yang menjadi focus pembahasan adalah fungsi perencanaan, pengendalian, pengaturan dan motivasi. Dengan demikian maka seorang manajer dapat saja berperilaku sebagai pemimpin, apabila dia mampu mempengaruhi perilaku orang orang lain untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, seorang ‘leader’ atau pemimpin belum tentu seorang manajer, akan tetapi seorang seorang manajer bisa berprilaku menjadi seorang ‘leader’ atau pemimpin

Secara umum Teori teori untuk menjelaskan tentang pemimpin diuraikan sbb;

1) Teori genetis

Inti dari Teori ini adalah “leaders are born and not made”, bahwa penganut Teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin dilahirkan karena pada dirinya telah tumbuh bakat pemimpin.

2) Teori Sosial

Inti dari Teori ini adalah, “Leaders are made and not born”, bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan pelatihan kepemimpinan.

3) Teori Ekologis

Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori social. Penganut Teori ini berpendapat bahwa seorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana yang kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur ditambah dengan pengalaman lainnya yang semakin menguatkan kepemimpinannya.

Dilain pihak Terry mengemukakan Teori kepemimpinan terdiri dari; 1) teori otokratis; 2) teori psikologis; 3) teori sosiologi; 4) teori suportif; 5) teori laizzes faire; 6) teori kelakuan pribadi; 7) teori situasi dan; 8) teori humanistik/populistik.

Teori teori tersebut sangat berhubungan dengan a) tipe kepemimpinan otokratis, b) tipe kepemimpinan militeristis, c) tipe kepemimpinan fathernalistis, d) tipe kepemimpinan kharismatis, e) tipe kepemimpinan demokratis. Secara lebih khusus beberapa tipe kepemimpinan tersebut dapat dijelaskan sbb;

a.Tipe kepemimpinan Otokratis.

Kepemimpinan menurut teori ini berdasarkan atas perintah-perintah, paksaan dan tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai wasit). Pengawasan dilakukan secara ketat, dan fungsionalisasi kerja berdasarkan struktur organisasi tugas tugas. Penentuan kebijakan tidak pernah dikonsultasikan kepada anggota, cenderung bersikap ‘one man show,’ tidak memberikan informasi secara detail mengenai rencana yang akan datang. Ciri-ciri tipe pemimpin adalah; 1) menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi; 2) mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; 3) menganggap bahwa bawahan adalah semata mata sebagai alat semata-mata; 4) tidak mau menerima kritik, saran maupun pendapat orang lain, karena dia menganggap dirinyalah yang paling benar.

b. Tipe kepemimpinan militeristis.

Yang dimaksud dengan tipe militeristis, tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer, artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militer. Seorang bertipe militeristik mempunyai sifat-sifat sbb; 1) dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama. 2) Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya, 3) Senang kepada formalitas yang berlebihan,4) menuntut disiplin yang tinggi dan menuntut kepatuhan mutlak dari bawahan, 5) tidak mau menerima kritik dari bawahan

c. Tipe fathernalistis.

Mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat kebapa an. Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruhnya untuk menggerakkan bawahan mencapai tujuan, tapi kadang kadang pendekatan yang dilakukan terlalu sentimental. Sifat sifat umum bertipe paternalistis 1) menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa, 2) bersikap terlalu melindungi bawahan, 3) jarang ada pelimpahan wewenang karena bawahan tidak terbiasa mengambil keputusan, 4) sering menganggap dirinya maha tahu.

d. Tipe kepemimpinan kharismatis.

Tipe pemimpin seperti ini mempunyai daya tarik yang amat besar, oleh karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Pemimpin yang diberikan kharisma yang demikian besar merupakan berkah yang merupakan ‘supernatural powers’.

e. Tipe kepemimpinan yang demokratis.

Tipe ini merupakan yang terbaik , oleh karena selalu mendahulukan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Ciri dari tipe ini adalah 1) Senang menerima saran dan pendapat orang lain, 2) menghargai bawahan sebagai manusia yang mempunyai derajad yang sama, 3) menitik beratkan kerjasama untuk mencapai tujuan, 4) memberikan kesempatan yang luas kepada bawahan untuk lebih maju dan sukses.

Berdasarkan berbagai tulisan mengenai sejarah rasul dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Nabi Besar Muhammad SAW, menampilkan sifat-sifat shidiq, (benar dan jujur dalam tekad dan sikap), amanah, (penuh tanggung jawab), fathonah, (cerdas dan profesional), tabligh (mempunyai kemampuan komunikasi yang handal). Semua sifat tersebut mencerminkan pribadi yang shaleh sebagaimana tampak di dalam kesehariannya, yaitu; jujur, sederhana, rendah hati dan lemah lembut, menepati janji, bijaksana, dan penuh kasih sayang.

Kewajiban Para penyelenggara Negara seperti yang tertulis di dalam Penjelasan Pembukaan UUD 1945, adalah sosok yang berbudi luhur, mempunyai moralitas yang tinggi untuk menjalankan tanggung jawab pemerintahan agar mampu mewujudkan tujuan Negara pasca reformasi yang telah berjalan sewindu sejak tahun 1998, adalah cermin tidak adanya pemahaman dan persepsi yang sama tentang kewajiban moral yang harus di emban oleh

Para elite politik para pemimpin kenegaraan karena telah terkooptasi dengan kehidupan Neoliberalisme dan kapitalisme, materialism dan hedonism yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dan justru menyuburkan budaya KKN. Korupsi adalah penyakit masyarakat harus dibasmi dengan menerapkan pelaksanaan hukum secara keras, dan menjatuhkan hukuman setingginya agar mempunyai effek jera pelaku.


III. PENUTUP

Kesimpulan. Setelah mencermati beberapa kajian tentang pemimpin dan kepemimpinan, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sbb; 1) Fungsi kepemimpinan memiliki dua aspek yaitu fungsi administrasi, dan fungsi sebagai top manajemen; 2) Beberapa teori kepemimpinan yang memberikan pencerahan yaitu teori genetis, teori sosial dan teori ekologis memberikan motivasi yang kuat bahwa semua orang diberikan peluang yang sama menjadi pemimpin yang sukses asalkan mampu berkompetisi mempersiapkan diri sejak dini, sesuai dengan teori pengembangan diri, dan senantiasa meningkatkan kompetensi dibidangnya masing-masing; 3) Agar tugas kepemimpina dapat berjalan dengan baik untuk masa yang akan datang, seorang pemimpin harus mempunyai beberapa kemampuan khusus antara lain, kemampuan analisis, kemampuan fleksibilitas dan kemampuan berkomunikasi; 4) Sebagai insan yang ber akhlak mulia, seorang pemimpin harus berjalan di track yang lurus, senatiasa menyelaraskan kemampuan holistic manusia yaitu antara IQ,EQ,SQ.

Akhirul kalam mengutip pendapat Djoko Santoso Moeljono di dalam Tjutju Yuniarsih dan Suwatno (2008), Manajemen Sumber Daya merupakan basis yang kuat untuk mendorong organisasi menerapkan strategi membangun kinerja yang produktif, melalui kepemimpinan yang berorientasi kepada manajemen mutu.