Minggu, 13 Januari 2013

Penganugrahan The Best Achievement For The Higher Dedication in Public Services Award 2013 oleh Drs Abdul Muin Angkat MM, Wakil Ketua Umum PPK Kosgoro


 

Para hadirin hadirat para undangan yang kami hormati, ; Assalamualaikum Warrahmatullahi wabarakatuh. Selamat Tahun Baru 2013, semogasemakin sukses.

Pertama-tama izinkan saya menyampaikan selamat atas terpilihnya bapak/ibu sekalian di dalam acara penganugrahan "The Best Achievement For The Higher Dedication in Public Services Award 2013" oleh yayasan Citra Insani dibawah pimpinan Ibu Endang Giriwati. S

Award ini adalah suatu penghargaan yang diberikan bagi orang-orang yang ber-dedikasi tinggi dan berprestasi dan unggul dalam pengabdian Pelayanan Publik yang dipantau oleh Yayasan secara khusus.

Disamping Teori motivasi oleh Maslow, ada tiga kebutuhan dasar manusia yang diperkenalkan oleh Mc Clelland yaitu, N-Ach ( need for achievement ) adalah salah satu motif kebutuhan untuk berprestasi dan diakui oleh masyarakat. Kedua, Need for
power, Keinginan untuk mendapatkan kekuasaan. Beberapa factor kelemahan yang harus diwaspadai adalah orientasi status,gengsi,dan sikap pragmatis,dan korupsi. Ketiga, Need for affiliation ( hasrat untuk dicintai ). .Secara umum Need for Achievement, adalah hasrat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan efisien di dalam pekerjaannya daripada yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa "The Best Achievement for The higher Dedication in Public Services Award 2013" = Suatu anugrah dan penghargaan atas dedikasi yang tinggi prestasi terbaik didalam Pelayanan Publik.


 

Dari Studi Mc Cleland dalam "The Achieving Society" mengatakan bahwa dorongan psikologis memotivasi masyarakat utk mencapai kemajuan adalah dengan mengubah sikap mental. Selanjutnya Mc Clelland menemukan bahwa prestasi unggul dapat diketahui dari hal-hal sbb;

1). Punya hasrat menyelesaikan hal terbaik dengan rasa tanggung jawab tinggi, 2) Mampu memecahkan masalah dan menemukan feed back atas kinerja 3) Mempunyai visi kedepan. "The Best Achiavement", adalah mereka peraih prestasi tinggi, bukan penjudi yang spekulatif, Mereka adalah pekerja keras yang suka tantangan dan mencari solusi, dan suka peluang sukses 5o% : 50%.

Dalam Era kompetitif sekarang, The Best Achievement for The Higher Dedication in Public Services Award
2013, semakin relevan, ditengah krisis multidimensi yang melanda negeri ini dimana daya saing Indonesia terpuruk di Dunia internasional.

Dalam sebuah laporan Bank dunia mencatat bahwa posisi daya saing Indonesia diantara 30 negara menempati urutan ke 28. Pada problem yang sama Indonesia menempati urutan ke 27 ; kurangnya usaha pemerintah untuk mendukung percepatan pembangunan dengan kebijakan IT..

Semoga usaha keras Yayasan Citra Insani guna mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang cerdas dan mumpuni dapat merangsang pemerintah untuk meningkatkan daya saing bangsa kearah yang lebih kompetitif.

Sebagai oleh-oleh dari Jakarta kami patut direnungkan, fenomena Jakowi yang blusak-blusuk menyapa masyarakat feriferal, masyarakat yang terpinggirkan, adalah suatu dedikasi kemanusiaan yang patut diapresiasi. Mereka adalah kaum miskin papa yang terkena dampak pembangunan kemanusiaan yang tidak adil. Jakowi adalah sosok pamong yang melayani masyarakat, mengayomi dan dekat dihati rakyat. Dia bukan 'pangreh praja' yang bergaya feodal, dan jauh dihati rakyat.

Akhirul kalam semoga penganugrahan Award yang diberikan pada malam yang berbahagia ini, berdampak positip bagi peningkatan mutu Sumber Daya Manusia, dan daya saing Indonesia di masa mendatang., Wabillahi taufiq walhidayah wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh..

Terimakasih.


 

Rabu, 09 Januari 2013

Rasa Sukses

Seorang teman yang menduduki posisi cukup tinggi dalam organisasi, selalu terlihat ceria dan mencintai pekerjaannya. Temannya sampai berkomentar bahwa terkadang Ia terlihat lebih happy dari owner perusahaan, yang jelas-jelas lebih berada dan lebih powerful daripada dia.
Cukup surprising, ketika ditanya apa rahasianya, teman ini mengatakan, "saya sukses terus" padahal, kita tahu persoalan yang dihadapinya tidak sedikit. Selain beban kerja yang tinggi atasannya pun kelihatan menuntut banyak. Jadi, kita bisa melihat bahwa kesuksesan itu sangat subjektif dan sangat tergantung bagaimana orang melihatnya.
Sebaliknya, seorang teman lain yang pintar dan berprestasi, begitu jarang merasa sukses, bahkan tidak pernah terlihat merasa puas dengan apa yang ia kerjakan. Selalu saja ia melihat banyak kekurangan yang harus diperbaiki dari dirinya. Komentar dan pujian orang di sekitarnya yang meyakinkan bahwa hasil kerjanya baik, seolah tidak mempan. Apakah begitu sulit untuk mempercayai apresiasi atasan dan rekannya sehingga ia tetap menganggap bahwa "pekerjaannya belum apa-apa"? Mengapa orang merasa berjarak dengan sukses, bahkan tidak bisa melihat kesuksesannya sendiri? Rasa sukses yang sering tidak kita pikirkan ini,seakan hal sepele, tetapi tentu saja besar dampaknya bagi self esteem kita, juga bagi "happiness". Tanpa memelihara rasa sukses dan happiness,bagaimana kita akan mendorong semangat untuk memacu produktivitas dan mencetak sukses-sukses lain?
Dunia kerja memang bukan seperti dunia olahraga di mana "kalah menang" sukses tidak selalu sukses sangat nyata. Kesuksesan dalam dunia kerja sangat relative dan subjektif, mengingat dalam dunia kerja banyak kegiatan kita yang terkait imajinasi, konsep,ide-ide, kepuasan customer. Pengembangan diri, penguatan kecerdasan emosi, pengembangan anak buah, dan bukan semata pengembangan fisik yang kuantitas dan kualitasnya langsung bisa terasa.
Apalagi bagi banyak orang yang berpikir ia memang "makan gaji", sukses atau tidak dalam bekerja itu nomor dua, yang penting ini adalah mata pencaharian. Di era kompetitif, di mana beban kerja bisa ditumpuk dalam hitungan detik, kita betul betul juga harus mempertimbangkan wellness management, bukan secara defensive, tetapi juga secara pro aktif. Kita perlu aktif membangun rasa happy di pekerjaan karena kerja demikian, penting bagi hidup kita, mengisi sebagian besar waktu kita sehingga tidak bisa kita berlalu dalam keadaan galau atau terbebani. Tanda kesuksesan sekarang sudah berubah, kita tidak selamanya mengukur apa yang kita "punya" dan "dapat" lagi, tetapi lebih ke apa yang kita rasakan di pekerjaan.
Musuh-musuh sukses
    Mari kita cermati hal-hal yang bisa membuat kita menumpuk emosi negative sehingga kita begitu sulit merasa sukses atau merasa happy.Kita kerap mengeluhkan pekerjaan yang berat, atasan yang tidak fair , perusahaan yang kulturnya negative sehingga kita seolah merasa selalu berada dalam posisi sulit. Sebenarnya pertanyaannya, apakah ini sekedar fenomena menjebak diri sendiri dalam situasi mengeluh, menggerutu, dan berbicara "dibelakang" secara berkelanjutan? Padahal kita semua tahu, bahwa pikiran negative ini pasti membuat kita tidak produktif, dan tidak memungkinkan perasaan sukses. Tanpa kita sadari, kita tetap memelihara perasaan "menjadi korban" dari pihak-pihak yang sebenarnya tidak perlu membuat kita menjadi korbannya.
    Hal yang memperburuk keadaan adalah bila kita m,encari teman senasib, yaitu teman berbagi rasa tidak happy , pessimis, dan mencerca diri sendiri. Kelompok orang frustrasi ini biasanya juga berbagi cerita-cerita yang dibumbui konspirasi bahwa manusia memang selalu berlatar belakang buruk.Pilihan untuk mencari teman yang lebih optimis sebenarnya selalu ada, tetapi si pesimis umumnya akan segera menemukan pesimis lainnya sehingga mereka justru akan lebih terjebak dalam perasaan "tidak berarti" yang lebih dalam. Apalagi kalau kita berkonsentrasi pada hal hal yang tidak bisa kita control, seperti situasi politik yang "seram", serta korupsi yang merajalela.
    Namun, bukankah sesungguhnya banyak hal didunia kerja kita yang memang lebih mudah dikontrol dan lebih mudah diperbaiki daripada situasi-situasi itu? Seorang atasan yang merasa frustrasi karena punya bawahan yang tidak bisa diandalkan 100 persen, sebetulnya bisa melihat bahwa banyak orang di tempat lain menghadapi situasi yang sama. Bukankah dalam situasi ini kita lebih baik berpikir untuk "work with what we got" daripada berfantasi untuk mendapatkan bawahan yang lebih bermutu?
    Manusia memang dilengkapi dengan defence mechanism psikologis yang akan menjaga agar kita tidak terlalu depresip. Terkadang, pilihan mekanisme diri kita adalah kebiasaan mencari kesalahan di luar diri kita. Kita bisa dengan mudah menyalahkan atasan yang serakah, pelanggan yang penuntut, kompetisi yang tidak fair, tanpa ada sebersit perasaan bahwa kita pun berpartisipasi dalam menciptakan situasi tertentu.
    Demi menghalau galau dan merasa sukses, hal yang perlu kita kembangkan sesungguhnya adalah belajar untuk bersikap jantan melihat kedalam diri dan bertanya, apakah kita sudah berusaha sekuat-kuatnya untuk mencari solusi yang "workable"? Sudahkah kita mengambil pelajaran dari situasi sulit yang dihadapi pekerjaan, serta sekuat tenaga berfokus untuk produktif dan happy di pekerjaan? Success is not the key to happiness,Happiness is the key to success, if you love what you are doing, you will be successful.(albert Schweitzer).
 Temukan Cinta
Kita tidak mungkin happy bila kita membenci pekerjaan. Kita perlu ingat bahwa bekerja itu tidak lagi identik dengan membanting tulang dan memeras keringat saja. Kita perlu mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari pekerjaan kita, dan pekerjaan seharusnya membuat seseorang bergembira.
Tidak seperti zaman dulu, di mana perusahaan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari pekerja, sekarang, pekerjaan perlu membuat seseorang gembira. Bila rasa simbiosis mutualistis antara perusahaan dan karyawan tidak terjadi, karyawan tidak akan melakukan usaha ekstra untuk bekerja dengan hatinya. Semua pekerjaan bersifat multifaceted dan pasti terdiri dari elemen yang kita sukai maupun tidak kita sukai. Kitalah yang perlu secara kreatif mengembangkan hal-hal yang kita sukai dari pekerjaan kita dan meningkatkan job content kita. Kita bukan lagi perlu menegoisasikan pengurangan beban kecil atau pengurangan tanggung jawab, tapi yang perlu kita perjuangkan adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan yang benar-benar kita cintai. 
Kemudian, kita pun perlu mengupayakan agar kita dalam sehari bisa merasa happy berkali-kali.`Hanya dengan menciptakan small wins di dalam pekerjaan kita, kita bisa merasakan sukses itu. Nothing is perfect and everything can be improved. Agar selalu merasa sukses,perbaikan itu bukan kita lakukan sekali-sekali, tetapi setiap hari, bahkan setiap saat. Excellence akan menjamin kesuksesan. Karenanya hal ini harus menjadi mindset. Obsesi untuk selalu "lebih baik lagi" akan mempengaruhi cara kita melihat dunia, bagaimana kita mempertimbangkan isinya, dan bagaimana kita bersikap di dalamnya. Excellence akan menjamin konsumsi kita terhadap rasa sukses.
(dikutip dari Eileen Rachman &Sylvina Savitri – EXPERD; Hogan Career Coach Certification, Kompas 15 desember 2012)

 

 

Minggu, 02 September 2012

Sambutan Penganugrahan “Indonesia’s Qualified Profesional” di Hotel Harris Tebet, Jakarta. (Oleh Wkl Ketua umum PPK Kosgoro Abdul Muin Angkat).


 

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam Selamat Datang di Ibukota Republik Indonesia Jakarta yang sangat terkenal dengan sebutan kota macet dan banjir yang tak terperikan.

    Bapak ibu kami sampaikan ucapan selamat atas terpilihnya bapak / ibu untuk menerima penganugrahan Indonesia's Qualified Profesional, yang nanti akan disampaikan oleh Ketua Harian Yayasan Citra Insani Jakarta. Sebagaimana bapak/ibu ketahui bahwa Yayasan ini sudah lama bergerak dalam Pengembangan sumber daya insani yang memberikan supporting bagi kemajuan kemanusiaan dan peradaban khususnya dalam bidang karya nyata dan ide-ide kreatif.

    Selama ini mereka mengamati kapasitas kerja, integritas kerja
kolektif secara periodic melalui mass media local dan informasi lainnya yang berhubungan dengan apa,siapa dan bagaimana performans bapak/ibu dikantor masing-masing. Dengan metoda pengolahan data tertentu Tim ahli Yayasan telah memilih deretan nama-nama yang sebentar lagi akan diumumkan.

    Qualified Profesional adalah seseorang yang mempunyai kompetensi dalam suatu pekerjaan tertentu. Kalau seorang employ menggunakan kapasitasnya dalam menunjang quality atau memberlakukan kapasitasnya untuk quality maka maka pintu sukses akan berada diambang pintu.

    Ada dua pandangan menyangkut profesionalitas. Pandangan pertama menyatakan ; seorang professional hanya terkait dengan pendapatan. Bukan keahlian .Menurut pendapat saya justru seorang profesional terkait dengan keduanya ya pendapatan, ya keahlian. Seorang professional harus ahli, Dia harus punya skill yang spesifik Oleh karenanya justru dia akan mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Bukan sebaliknya ! . Semua keberhasilan itu akan lebih lengkap kalau disertai dengan "rasa syukur" kepada Allah swt, Tuhan yang maha kuasa yang telah memberikan karunia dan barokah.

    Pandangan kedua menyatakan, bahwa seorang professional di dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan Juklak dan Juknis. Pekerjaan diluar skema itu tentu akan mendapatkan tambahan pendapatan.

    Merujuk pendapat Tanri Abeng, seorang professional harus mampu menguasai IPTEKS. Secara mendalam mampu melakukan kreativitas dan inovasi atas bidang yang digelutinya, berpikir positip dan menjunjung tinggi etika dan integritas profesi.

    Dalam semangat itulah Penganugrahan "Indonesia's Qualified Profesional" menjadi relevan untuk meningkatkan daya saing bangsa sekali lagi kami ucapkan Selamat !! Wabillahi taufik wal hidayah wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh (ama 1 septrember 2012).

    


 

.

    
 

    

Indonesia Negara Gagal?


Kalam;
    Gambaran buruk dalam Index negara gagal 2012 yang dipublikasikan Lembaga riset nurlaba the fund for peace (FFP) di Washington (AS), Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 178 negara. Status 2012 lebih buruk ketimbang ketimbang tahun lalu yang menempati urutan ke-64 dari 177 negara.
    Dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia berada dalam urutan ke-6 negara terburuk dan jauh tertinggal dibandingkan denga anggota ASEAN lainnya, seperti Thailand (84) Vietnam (96), Malaysia (110),Brunei (123), dan Singapura (157). Menurut index yang disusun FFP bekerjasama dengan majalah Foreign Policy , semakin besar angka peringkat, semakin tinggi tingkat stabilitas dan semakin rendah tekanan yang dihadapi Negara tersebut.
    Kajian FFP menyebutkan kondisi Indonesia memburuk terutama di tiga dari 12 indikator yang menyusun index kegagalan Negara. Ketiga indicator tersebut menyangkut tekanan penduduk, kegalauan kelompok minoritas, dan lemahnya perlindungan hak azasi manusia.
    Tulisan Daoed Joesoef dalam Kompas 12 juli 2012, mungkin bisa memberi solusi terhadap persoalan ini setidaknya kita bisa berharap seperti Negara Finlandia urutan ke-178 negara paling stabil di dunia, karena kehidupan politik, ekonomi, supremasi hukum,perlindungan hak azasi manusia dan pelayanan public benar-benar terjamin baik, di Indonesia mungkinkah?.
.
    Pada 16 agustus 2007, Boni Hargens sudah menulis bahwa Indonesia, ketika memasuki usia ke-62 masih gagal "menjadi Indonesia". Sejak 1970, abad lalu , saya sudah memprediksikan hal ini dan saya katakan langsung kepada Presiden Soeharto 6 januari 1982. Melalui tulisan di media massa, saya ingatkan setiap pemerintahan baru di era reformasi supaya berusaha mencegah kegagalan pembentukan Negara bagsa kita. Ketidak suksesan pembangunan ekonomi mengindonesiakan Indonesia. Mereka semua tidak menggubris. Mereka lupa, mereka dipilih tak melulu untuk memimpin, tapi sambil mendengan dan membaca juga pendapat orang-orang yang berada di luar lingkungan terdekatnya. Presiden SBY menyanggah pernyataan Indonesia Negara gagal. Dia bahkan sampai menyatakan penilaian tersebut berlebihan dan karenanya mempermainkan kebenaran itu, menurut dia, mempermainkan Tuhan.
    Adalah logis Indonesia menjadi Negara gagal karena sejak penyerahan kedaulatan nasional dari Belanda ke Indonesia tidak pernah ada usaha kolektif berupa pembangunan nasional yang sistemik, koheren, konsisten, terarah, dan kontinu. Yang selama ini dilakukan oleh penguasa Negara silih berganti adalah pembangunan bidang ekonomi berdasarkan resep penalaran ekonomika,Bank Dunia, IMF dan Lembaga financial internasional lainnya. Kedua usaha ini memang saling terkait, tetapi jekas berbeda secara fundamental dalam tujuan dan ukuran suksesnya. SBY dan para penasehat ekonomi serta mereka yang memagarinya perlu menyadari bahwa Negara bangsa Indonesia bukan lahir dari penalaran buku teks ekonomika, melainkan dari suatu revolusi yany ditakdirkan Tuhan bernatur unik. Realitas historis ini adalah suatu kebenaran dan mukjizat ilahiah . Akuilah memang ada yang salah dengan visi pembangunan dari semua pemimpin pasca revolusi kita selama ini.
Horizontal dan vertikal
    Bagaimana bisa disebut Indonesia Negara berhasil kalau sampai sekarang, saat memasuki usia ke-67, masih ada saja daerah bagiannya yang ingin memisahkan diri, tidak betah lagi bergabung dalam NKRI, bosan menjadi bangsa Indonesia. KeIndonesiaan kita terbukti gagal, baik secara horizontal maupun vertical. Secara horizontal tetap rapuh karena hubungan antar kelompok (etnis dan kedaerahan) belum terpadu secara integralistik.
    Secara vertical tetap rawan berhubung sepak terjang para pemimpin politik dan kepartaian mereka tidak menggairahkan perkembangan spirit nasionalisme dikalangan warga Negara. Kompas 2 juli lalu memberitakan betapa konflik antar warga atau dengan aparatur pemerintah ternyata masih menyala di Aceh, Lampung dan Sulawesi tenggara, yaitu daerah-daerah yang selama ini menjadi area konflik.
    Dinamika masyarakat digerakkan oleh dua set keadaan, yang oleh sosiolog Robert Merton disebut "laten" dan "manives". Yang "laten" adalah kekuatan-kekuatan yang tidak kita sadari atau samar-samar disadari atau di mana kesadaran mengenai hal itu memainkan peran yang tidak penting. Yang "manives" merupakan proses di mana kesadaran tentang prose situ sendiri—yaitu citra tentang natur dari masyarakat dan proses social dalam pikiran manusia – memainkan peran yang signifikan dalam menentukan perilaku manuasia dan jalannya kejadian-kejadian social.
    Artian "laten" tadi meliputi nyaris keseluruhan proses kehidupan makhluk hewan, tetapi tidak lagi bagi makhluk manusia. Sedangkan kesadaran sudah masuk ke dalam system social human sejak dini, tidak hanya kesadaran diri (self awareness), tetapi lama kelamaan juga tentang keseluruhan system di mana manusia itu berakar. Kita tidak bisa mengatakan apa yang akan dilakukan oleh system kecuali bila kita ketahui apa yang dipikirkan oleh para anggotanya mengenai system yang bersangkutan sebab apa-apa yang mereka pikirkan memengaruhi perilaku mereka dan perilaku itu memengaruhi system.
    Jadi citra tentang dunia dalam pikiran manusia menjadi unsure esensial dalam proses kejadian dunia itu sendiri. Ideologi merupakan bagian dari citra yang dianggap manusia sangat bernilai bagi identitas dan citra dirinya sendiri dan, dank karena itu, dia siap sedia untuk mengembangkan dan mempertahankan. Suatu citra dunia akan menjadi ideology bila ia menciptakan dalam pikiran manusia yang menghayatinya suatu peran bagi dirinya sendiri yang dinilainya sangat tinggi. Persiapan yang cukup lama, konsisten dan kontinu dari kelahiran Negara bangsa Indonesia, mentransformasi ideology etnis-kedaerahan menjadi ideology kebangsaan.
    Maka, karakteristik esensial pertama dari ideology adalah suatu interpretasi historis yang cukup dramatis dan meyakinkan sehingga individu merasa mengidentikkan dirinya dengan sejarah itu dan pada gilirannya dapat memberikan kepada individu sebuah peran dalam drama yang digambarkan dan dicetuskan oleh sejarah tadi. Ideologi kemerdekaan nasional menggambarkan sejarah sebagai suatu drama besar pembebasan manusia melalui perang revolusiner mengusir penjajah. Dengan menjadi "rakyat Indonesia" dan tidak sekedar "orang daerah" (Aceh, Papua dll), individu mengidentikkan dirinya dengan drama ini dan menerima sebuah peran disitu. Kemenangan perang revolusioner akan mengakhiri penindasan, menegakkan keadilan dan kemerdekaan nasional, serta merehabilitasi harkat manusia bagi seluruh warganegara Indonesia.
    Namun, para pemimpin dan politikus kita, termasuk SBY, kiranya tak menyadari, pengertian "bangsa" bukanlah deskriptif. Suatu bangsa bukanlah satu fakta. Ia abadi karena berupa status nascendi yang permanen, dari natur nya ia selalu in potential, tidak parnah in actu. Jadi istilah "bangsa" bukan mengatakan keadaan melainkan suatu gerakan, suatu kemauan, suatu usaha bersama karena mau hidup bersama.
    Maka, ketika Negara selaku manivestasi dari "bangsa yang terorganisir" lalai mengadakan gerakan pembangunan nasional berupa usaha kolektif sistematik, koheren, konsisten, terarah dan kontinu, satu persatu individu, suku, atau daerah yang merasa peran yang dibayangkannya dalam dunia Indonesia yang merdeka jadi semakin tidak pasti, jauh dari memuaskan atau dilecehkan oleh pihak lain atau diingkari oleh penguasa, mulai memikirkan ideology lain yang menjanjikan.
    Kita memang harus memberantas separatism demi keutuhan NKRI. Tetapi kita berkewajiban memahgami sebab musabab timbulnya gerakan separatism tersebut. Coba renungkan ! Sambil mengibarkan bendera yang lain daripada sang saka merah putih, menembakkan peluru dan melayangkan anak panah, para separatis berteriak, bukan minta kenaikan produk nasional bruto, melainkan menuntut agar "diwongke" sebagai manusia bermartabat diajak berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Mereka sadar benar mereka sudah eksis dan relative mumpuni jauh sebelum kelahiran Indonesia.
Paradigma Baru
    Berarti kita dituntut bukan untuk mencari arah baru untuk mengatasi ketimpangan ekonomi yang semakin melebar. Selama "pembangunan" direduksi dari "pembangunan nasional" menjadi "pembangunan ekonomi" tok dan pelaksanaannya didadarkan pada penalaran ekonomika pure and simple selama itu pula pembangunan kita akan berjalan ke "arah yang salah" karena penalaran ekonomika itu justru mengarahkannya kesana. Kita dituntut menetapkan sutu paradigm baru pembangunan secara nasional. Yang perlu kita perkaya adalah manusia bukan ekonomi ditengah mana manusia itu hidup. Yang harus kita selamatkan ditengah paradigm baru tadi, adalah eksistensi Negara bangsa karena Ia adalah gabus tempat kita semua mengapung.
    Dengan kata lain, Bappenas bukan perlu menyiapkan satu "Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI), melainkan "Master plan Percepatan Pembangunan Negara Bangsa", sesuai panggilan lembaganya yaitu "badan Perencanaan Pembangunan Nasional", sesuai sebutan dengan isi. Konsep paradigm baru pembangunan mendatang itu harus memperhitungkan hal-hal yang selama ini diabaikan begitu saja.
    Pertama, pembangunan adalah pembangunan nasional yang holistic, bukan pembangunan ekonomi yang sektoral. Kita jangan lagi berpikir dalam term ekonomi karena yang dipertaruhkan bukan lagi bidang ekonomi, melainkan eksistensi Negara bangsa. Ekonomika tetap dipakai tetapi sebagai bagian dari pembangunan nasional, bukan sebaliknya. Penalaran ekonomika harus melayani kebutuhan pembangunan nasional, bukan sebaliknya. Berarti konsep pembangunan tidak perlu lagi didikte ajaran dan pesan dari "the economics of development" tetapi harus didasarkan pada ide "the cultural realisties" dari dinamika social bawaan revolusi -45 yang telah melahirkan Indonesia, berupa sekaligus Negara dan bangsa.
    Kedua, hargai suku sebagai kelompok etnis dari orang- orang yang punya self esteem, bermartabat, turut disertakan dalam usaha kolektif yang terorganisir yang menentukan nasib bersama. Usaha mengIndonesiakan Indonesia mengisyaratkan memanusiakan semua dan setiap warga Negara Indonesia di manapun berada.
    Ketiga, dalam memanfaatkan sumber daya alam (natural endowment ) hendaknya kita punya "etika masa depan". Ini bukan etika yang dirumuskan sekarang guna ditetapkan di masa mendatang, melainkan yang digariskan sekarang untuk diterapkan sekarang juga demi eksistensi masa depan. Artinya, kita tidak boleh serakah lupa daratan sehingga melupakan peluang serupa yang diperlukan bagi kehidupan anak cucu. Dengan kata lain natural endowment yang kita "kuasai" saat ini bukanlah "warisan" nenek moyang melainkan "pinjaman" dari anak cucu yang harus bisa dikembalikan pada waktunya kepada mereka dalam kondisi bernilai sama, kalaupun tak bisa berpotensi lebih besar sebagai bunga pinjaman.
    Keempat, pendidikan formal perlu diberi prioritas pertama dan utama. Indonesia adalah satu2 nya bangsa di dunia yang puluhan tahun sebelum merdeka selagi masih dijajah asing, sudah mengadakan system pendidikan nasionalnya sendiri guna menyiapkan orang-orang yang berjiwa merdeka dan siap berjuang merebut kemerdekaan. Sesudah merdeka sekarang adalah wajar sekali apabila kita membangun pendidikan yang sistemnya menyiapkan warga yang nerjiwa Indonesia dan mampu membangun Negara bangsa.
    Kelima, Setiap langkah dan proyek pembangunan di manapun merupakan penerapan Pancasila. Artinya ia jelas mencerminkan Pancasila tanpa ribut mengungkapkannya sebagai lip-service politik semata. Politik bukan demi berpolitik tetapi demi pembangunan nasional agar tidak menjadi Negara gagal.(ama)